Saturday, March 25, 2006
Panas. Teriknya mentari bisa dibaca dari kernyit dahi dan mataku yang menyipit. Gerakan kakiku yang terburu-buru sempat terhenti oleh teguran petugas keamanan di gerbang depan kantor. "Lewat sini aja,mbak...".
Aku tersenyum cerah. "Wah, rupanya peraturannya sudah berubah nih! Bagus juga, jadi ngga perlu memutar beberapa menit lebih lama untuk mencapai lobby kantorku yang rupawan itu" pikirku dalam hati. Maklum aja, aku termasuk penentang nomor satu untuk urusan peraturan entry gate yang jalurnya cukup menyita waktu itu.
"Ooh..udah boleh ya pak lewat sini ?!"
"Bukan,Mbak...di sana ada demo!"
"Ooohh.."
Senyumku lantas hilang begitu saja,entah terbenam dimana. Aku mengangguk singkat sambil membelokkan kaki ke tempat yang dimaksud pak satpam. Ujung-ujungnya aku tetap saja harus melewati jalur biasanya, hanya sedikit memotong pada jalur yang biasa. Sayup-sayup orang berorasi memaksaku melongok sebentar pada kerumunn orang-orang berwajah garang di gerbang sebelah.
"Hmm..demo apalagi kali ini ya? Bakso tikus,borak dan sebangsanya udah ga jaman lagi "
"Ooh..."
Lupa mataku terantuk pada apa, atau telingaku mendengar celoteh siapa. Yang jelas, aku jadi tahu demo kali itu mendemo liputan kami yang katanya ga bermoral. Aku lantas melengos pergi.
Setiap kepala di kantor ini tentunya punya pendapat sendiri dengan peristiwa demonstrasi itu. Begitu pun aku.
Cara demonya memang norak. Tapi subsatansinya membuatku tak bisa bicara banyak. Salah-salah aku harus menelan ludah sendiri. Begini sulitnya bekerja untuk sesuatu yang bahkan kita ragukan sendiri nilai manfaatnya. Ga usah jauh-jauh bicara kapitalisme. Mari Kita bicara nilai saja. Nilai "harus atau tidak harus", nilai "perlu atau tidak perlu", nilai "bermanfaat atau tidak bermanfaat".. bukan "penonton suka atau tidak suka", " penonton senang atau tidak senang, " ! Jangan-jangan penonton kita semua suka masturbasi sehingga tontonan berbau seks laku keras !!
Tapi, maklumi saja. Semua punya pilihan kebenarannya masing-masing. Mungkin jika saya berada di barisan usia mereka (para pendemo-red), saya juga berada dibarisan itu. Mungkin juga ketika mereka berada di usia saya, mereka sudah tak lagi ada dibarisan itu. Meski diam-diam menundukkan muka sedalam-dalamnya agar gurat malu tak terlihat siapapun, sambil dalam hati menyatakan, 'SETUJU' !!!! Tapi, maaf....
Dewi Layla at 6:16 AM