Tuesday, June 13, 2006
Kita di Penggalan MalamSepi. Itulah kita malam itu.
Hanya ada pijaran lampu-lampu
dan mesin mobil yang berisik
Langit jauh lebih indah dari wajahmu ketika itu.
Makanya mataku tak pernah lepas menatap langit.
Sesekali kamu mencoba melontarkan pertanyaan.
Semua kujawab dengan diam.
Hingga akhirnya pertanyaan seringkali berubah menjadi pernyataan.
Kamu terus nyerocos.
Sebetulnya diam-diam aku berharap ada sebentuk kalimat
peringan luka yang kudengar malam itu.
Tapi semua basi.
Semua pernyataan usang yang bahkan aku sudah menduganya dalam hati.
Maaf lagi, janji lagi, cinta lagi.
Kamu terus nyerocos. Tapi tak satupun kalimat yang kunanti.
Aku terus menatap langit. Masih ditemani deru mobil dan pijar lampu.
Tanpa satupun kalimat peringan luka.
Dewi Layla at 4:07 AM