Photobucket - Video and Image Hosting
Sunday, July 23, 2006

Netherland on 5 first days...

Sebuah kota kecil yang ramah. Rumah-rumah dan bangunan perkantorannya sama, terbuat dari batu bata dan banyak jendela. Khas sekali bangunan eropa jaman dahulu yang masih dipertahankan.
Disini jarang yang memiliki rumah pribadi. Kebanyakan penduduknya tinggal di flat-flat yang berjajar rapi memenuhi kota-kota di belanda. Tapi rumah flat disana sangat terawat. Beda jauh sama rumah susun di Jakarta. Kenalan saya di belanda, pak Wid, bilang kalau mengontrak rumah di belanda sangat sulit. Bisa-bisa kita harus mengantri selama 10 tahun untuk mendapatkan kesempatan untuk bisa mengontrak. Makanya,sebelum dapat kesempatan itu kebanyakan pendatang terpaksa tinggal di rumah-rumah kerabatnya.
Hampir ngga ada banguanna modern di kota Amsterdam atau Utrech, 2 tempat di belanda yang sempat saya kunjungi. Yang saya lihat hanya stadion AJAK dan beberapa perkantoran di sektiarnya sebagai bangunan besar. Gedung pencakar langit tak saya temukan disini. Saya belum menemukan jawabannya kenapa. Entah karena mereka menyukai tipe model bangunan klasik atau karena alasan lain.
Flat-falat yang berbaris rapi, serapi susunan batu bata yang menyusunnya, dipadu dengan bunga-bunga yang tumbuh di taman sekeliling flat menjadi pemandangan yang tak bosan-bosannya saya nikmati setiap hari. Saat berjalan kaki,di atas trem atau bus.
Bus,metro,trem adalah transportasi umum di Belanda. Semuanya bisa dinaiki dengan membeli Streppen Card,kecuali tiket metro ada khusus sendiri. Hampir semua orang punya peta, termasuk penduduk belanda sendiri. Tujuannya untuk mengetahui berapa zona yang akan mereka lalu. Dengan begitu mereka akan tahu berapa baris streppen card yang akan di cap oleh petugas bus atau trem. O,ya di tiap bus dan trem di pasangi kamera, jadi kalau ada kejahatan di dalam bus atau trem akan mudah untuk dilacak.

Banayk yang memperingatka nsaya dan teman-teman untuk berhati-hati karena di Amsterdam ternyata banyak copet. Mungkin benar juga, saya lantas berhati-hati. Kesal juga sih, karena perasaan was-was itu selalu mengahantui saya. Jadi tidak tenang mau melancong. Tapi saya tetap merasa nyaman kalau berlama-lama di bus atau metro.
Di kota ini penyandang cacat cukup dimanjakan. Ada lampu merah yang punya tombol khusus bagi penyandang cacat saat ingin menyeberang. Para supir bis atau trem juga punya kewajiban untuk membantu mereka naik dan turun, tanpa harus diminati tolong terlebih dahulu. Ada juga koridor untuk berjalan bagi penyandang cacat. Di koridor ini tidak boleh ada yang lewat kecuali mereka. Tentu aja ini sangat memungkinkan karena trem, bus,sepeda, orang dll punya track berjalan sendiri-sendiri.
Setiap halte dan stasiun punya peta, petunjuk arah dan waktu yang terawat rapih. Sehingga orang paling baru di belanda sekalipun ngga usah takut tersasar.

Orang-orang belanda sangat modis dalam berpakaian,terutama perempuannya. Selain modis mereka juga cantik dan ganteng. Sepertinya saya jarang melihat orang berupa buruk disana.Apalagi perempuan2 maroko yang berjilbab, mereka sungguh jelita. Saya sampai minder setengah mati. Tapi sesekali ada juga pengemis ’gemuk’ disana, copet juga gelandangan.


Dewi Layla at 11:47 PM



Photobucket - Video and Image Hosting favorit :
alternatif
sejarah
surprises
jalan-jalan
+buyung
+citra
+desan
+dhank Ari
+Nita
+ochan
picis