Photobucket - Video and Image Hosting
Sunday, July 23, 2006

Ras yang Kalah

Terasa sekali perasaan itu begitu aku menginjakkan kaki di Amsterdam. Dalam hitungan menit saja, aku mahfum bahwa Tanah Airku Indonesia tak lebih dari bangsa yang terus, dan akan terus terjajah.

Bandara Schipol masih begitu sepi ketika kami sampai disana. Kami berusaha menelepon seorang teman dari telepon umum yang tersebar didalam bandara. Dengan bahasa inggris yang patah-patah, alhasil beberapa euro terbuang percuma karena salah memencet nomor kode. Berulang kali salah serta kesadaran bahwa kami hanya membawa uang yang pas-pas an saja, kami pun memutuskan bertanya pada petugas bandara tentang cara menelepon. Petugas itu berkulit hitam, mungkin dari eropa, atau suriname, tak tahulah. Dengan senang hati dia memberi tahu kami. Beberapa orang yang lalu lalang memperthatikan kami, dimata mereka penuh tanda tanya. Mungkin begini kira-kira kalimat yang ada di kepala mereka, ” masa’ pake telepon umum aja ngga bisa ?”...

Sial betul memang Indonesia ini. Hasil jajahan Belanda ini memang tidak mewarisi bahasa Inggris sebagus India atau malaysia misalnya. Padahal di kemudian hari, seperti saat ini, bahasa inggris benar-benar ketauan pentingnya.

Akhirnya kami berhasil menelepon seorang teman dan ia mengantarkan kami membeli tiket kereta api bawah tanah yang disebut Metro. Harganya mahal sekali, Cuma saya lupa berapa harganya. Lalu kami membeli streppen card, kartu yang bisa digunakan untuk naik bis dan juga trem dalam kota. Kira-kira untuk 5 kali perjalanan kami harus membayar sekitar 6,7 euro. Piuuuhhh....semua serba mahal kalau di kurskan dalam rupiah!

Berbeda sekali dengan situasi Jakarta, dimana Turis dari ras kulit putih masih menjadi tontonan menarik bagi banyak orang, khususnya mereka yang tinggal di daerah pinggir dan bukan daerah wisata. Tapi Amsterdam, turis-turis berbadan kecil seperti kami ini sepertinya tak menarik sama sekali bagi mereka. Bagus juga sih, kami jadi bisa berlalu lalang tanpa merasa risih. Namun berdiri dalam Kereta, atau berjalan di trotoar yang kiri kanannya di penuhi orang-orang Bule yang berbadan besar-besar itu, aku jadi merasa sangat kecil. Apalagi kalau harus bersisian dengan perempuan maroko yang cantik dan ayu itu, rasanya aku tiba-tiba menjadi orang paling tidak menarik sedunia. Aaahh....ras ku malang, ras melayu!

Tentu saja, lalu lintas di Amsterdam adalah hal yang paling menarik perhatianku. Ada sinergi yang bagus sekali antara trem dan busnya. Jam yang digunakan untuk naik trem dan bus diatur sedemikan rupa sehigga tidak saling bertabarakan dan penumpang tidak perlu menunggu terlalu lama. Bus dan tremnya tentu saja sangat bersih, meskipun beberapa trem tak luput dari coretan-coretan iseng penumpang.

Kotanya memang tidak di penuhi oleh gedung-gedung bagus dan besar, namun bangunan-bangunan tua yang dipertahankan justru menunjukkan betapa penduduknya sangat bersahaja. Mengedepankan Fungsi tapi juga tak mengesampigkan estetika, yang terpenting mereka menghargai nilai historis.

Berbeda sekali dengan tanah airku, Indonesia. Sepertinya hidup di Amsterdam adalah menikmati hidup. Segalanya serba teratur, serba rapih dan indah. Ngga sembrawut seperti Jakarta. Inilah hidup, tidak perlu stres setiap hari menghirup asap knalpot dan bersitegang dengan angkot yang ga tau aturan. Inilah hidup, yang bekerja untuk sebuah karya dan bukan mencari uang makan. Lantas,menyesal menjadi orang Indonesa ? Tak tahulah, mungkin iya.


Dewi Layla at 11:32 PM



Photobucket - Video and Image Hosting favorit :
alternatif
sejarah
surprises
jalan-jalan
+buyung
+citra
+desan
+dhank Ari
+Nita
+ochan
picis