Tuesday, November 21, 2006
BERTEPUK SEBELAH TANGANKulihat kalender. Rupanya hari mulai bergulir ke akhir november. Seperti tercekat rasanya, hatiku terbagi dua. Antara bahagia dan sendu. Tentu aku bahagia, mengingat rupa suami tercinta, 2 saudara perempuan, mama dan makanan indonesia. Lantas aku teringat sebuah tempat yang biasa kami sebut lantai 3. Hatiku seketika saja senyap.
Begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Padahal ketika dulu memilih profesi wartawan aku punya alasan kuat. Sepenuh hati dan segenap jiwa. Tidak seperti kebanyakan teman2ku yang kebanyakan bilang karena 'kecebur'. Begitulah, maka tak heran kalau aku menaruh serius pada profesi ini. Bukan sekedar wahana mencari rejeki, tapi lebih sebagai panggilan jiwa.
Karenanya, hampir 4 tahun aku berkiprah lantai 3 ini, aku merasa prestasi terbaiklah yang selalu aku berikan. Beberapa kali aku mencoretkan jua decak kagum. Pasti ini bukan ponten subjektif belaka. Evaluasi tahunan yang selalu disampaikan para bos2 pun menunjukkan kalau mereka puas atas kerjaku. Teman2 dan para kolega baru tak jarang mengalamatkan pertanyaan seputar pekerjaan padaku. Tentu ini juga dilakukan bukan tanpa alasan.
Waktu, tenaga, pikiran sepertinya sudah aku berikan sepenuh hati untuk lantai ini. Aku ngga pernah mengeluh soal gaji rendah atau tunjangan yang sangat terbatas. Ya, sesekali aku memang berkoar2 jika hakku yang sudah sangat terbatas itu, dicurangi. Tapi aku bukan pengeluh gaji. Alasannya jelas, aku bekerja dengan cinta. Aku mencintai pekerjaan dan tempat kerja saya.
Tapi, Ternyata hanya saya yang mencintai lantai 3. Lantai 3 tak cinta pada saya. Saya seperti hilang dari pandangan. Saya seperti tak terlihat di permukaan. Apakah yang sudah saya kerjakan tak pantas dihargai dengan lebih baik. Tidak dengan gaji tentunya,karena saya bukan pemuja uang.
Lihat saja, hampir 4 tahun saya berkarya untuk lantai ini. Beberapa program yang saya berada didalamnya bahkan lantas menjadi program2 andalan dan stripping. Dan paling tidak saya berada 2 periode di program2 itu. Tentu itu semua bukan karena saya seorang, tapi saya tau (tanyakan pada yang lain, saya yakin mereka juga setuju) saya juga punya kontribusi besar disana. Maaf, bukan bermaksud takabur. Saya hanya mencoba memaparkan fakta yang ada. Sebut saja, jelang siang, kejamnya dunia dan surat sahabat.
Tapi lihat, apa yang saya dapatkan. Mereka bahkan tidak perduli dengan keinginan dan cita cita saya. Saya ngga pernah ditempatkan di program2 yang saya suka, yang membangun jiwa jurnalis saya. Lihat juga saya dan teman2 seangkatan saya. Hitungan matematika saya dan mereka katanya jauh berbeda. Katanya angka akhir saya jauh lebih baik, tapi kenapa mereka berada di posisi yang jauh lebih baik dari saya ?
Ini tentu cinta sebelah tangan. Pertanyaannya, apa salah saya ? mengapa saya tak cukup baik untuk dicintai trans tv ?
Berat rasanya membayangkan kaki ini melangkah ke lantai 3... meski jauh di hati saya, saya tau, cinta masih besar tertinggal disana...
Dewi Layla at 12:14 PM